Selasa, 20 Oktober 2015

Akan Ku Katakan Siapa Dia



Malam yang tenang, saat aku tiba-tiba mengingat semua itu...
Saat awan kelabu menggelayut di langit mengirim pesan bahwa hujan akan segera datang. Aku masih berlari tak tentu arah, mencari sesuatu yang pasti, namun tak pasti di mana dan bagaimana. Aku bingung, gelisah, dan takut yang mendominasi. Langkah kaki kian memburu tak tentu, sementara waktu tak ingin menunggu. Aku luar biasa gugup. Aku berhenti. Sesuatu memaksaku berbalik, lari ke arah dari mana aku datang. Ya, rasanya ingin terbang saja untuk segera sampai di tempat aku bermula. Aku berpacu dengan detak jantung yang semakin berantakan dihajar ketakutan...
Kamu duduk dengan mata sendu. Bibirmu terkatup. Matamu mulai basah. Tapi, aku tak mengenalmu. Sosok yang paling aku kenal adalah seorang wanita tua di sebelahmu. Wanita itu terbaring, diam, dan terpejam. Sementara gadis kecil yang memeluk tubuh bisu itu terisak dalam bungkam. Aku terpaku. Melayang sudah napas dan detak jantungku! Perlahan tak percaya, aku mendekat. Kamu menyingkir, seolah mempersilakan aku untuk mendekati sosok diam itu.
“Mas... Ibu, Mas....” isak si gadis kecil padaku.
Ya, gadis mungil itu adalah adik perempuanku, dan wanita tua yang diam terpejam itu adalah ibuku. Ibu meninggal..... Serta merta aku merengkuh tubuh ibu yang lemas tanpa nyawa, mengguncangnya perlahan walau tahu itu hanya sia-sia. Ibu tetap diam, sementara tangisku sebentar lagi pecah. Adikku sudah tersedu. Kamu, terdiam dalam pilu dan titik air mata yang bisu...
Aku ingat benar, saat itu usiaku masih delapan tahun, dan Ajeng, adikku, baru berusia tiga  tahunan lebih. Kamu dua tahun lebih tua dariku. Sejak hari itu, kamu menjadi kakak kami, yang selalu melindungi dan menyayang kami. Tadinya, aku mengira kamu orang jahat yang ingin mencelakai ibu dan adikku saat aku pergi mencari pertolongan kepada manusia-manusia lain yang mungkin masih peduli. Ternyata, bentuan itu adalah kamu, yang datang entah dari mana. Sayang, Allah memang ingin ibu kembali. Mungkin sudah terlalu lama ia menderita, dan sudah saatnya ia beristirahat untuk selamanya.
“Tadi ibumu minta supaya aku menjaga dia,” katamu di tengah hujan sambil menunjuk Ajeng.
Aku diam, masih belum percaya sepenuhnya padamu. Ada rasa takut baru yang muncul, sementara Ajeng hanya bungkam menerima apapun yang menimpanya saat itu, nanti, atau pun seterusnya. Dia pasrah dan tahu apa-apa.
“Udah, kalian ikut aku aja, aku punya rumah kecil, cukup buat bertiga sama kamu,”
Ternyata, nasib kita tak beda. Ibumu pun pergi dengan cara yang sama, dan saat itu kamu tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam dalam isak pilu seperti yang tadi dilakukan Ajeng. Tiga tahun yang lalu, kamu mengalaminya. Mungkin itulah mengapa kamu begitu ingin menolong ibuku, karena kamu mengingat masa lalumu.
 “Aku nggak punya siapa-siapa lagi. Kamu masih mending, punya Ajeng... Kalau kamu mau, kamu sama Ajeng tinggal di sini aja ya?!”
Begitu katamu ketika membawa kami ke bangunan mungil, dinding kayu lapuk serta beratap seng bekas. Sebut saja itu rumah.
“Iya, Mbak...” jawabku singkat. Dari postur tubuhmu, aku sudah tahu, kamu lebih tua dariku.
Sejak saat itu, tanpa peresmian atau apapun sejenisnya, kamu menjadi kakak bagi kami. Kamu menjadi teladan dan tumpuan kami. Tahun-tahun berlalu, dan engkau telah menjadi kakak terbaik bagi kami, aku dan Ajeng. Kamu begitu mengayomi, melindungi, mendidik dan menyayangi kami. Kita seperti saudara yang telah lama terpisah dimensi.
***
Malam begini, Ajeng sudah terlelap. Pasti ia lelah setelah seharian sibuk di kampus. Aku juga lelah, namun belum ingin terpejam.
Ya, tujuh belas tahun telah berlalu dan semua terasa seperti mimpi. Kita memiliki rumah, kendaraan, perabotan yang lengkap, dan lebih dari itu, juga sebuah rumah singgah bagi anak-anak jalanan seperti kita dulu. Betapa besar karuniaNya....
Semua itu berawal dari hal yang tak terduga...
“Bikin apa, Mbak?” tanyaku saat itu.
“Iseng aja, Di... Ini ada kain perca, mau Mbak bikin tas buat Ajeng sekolah. Kasian, tasnya udah butut kayak gitu,”
Ajeng berkesempatan untuk mengenyam pendidikan, sedangkan aku menolak. Alasannya jelas, aku ingin Ajeng yang sekolah dan aku yang mencari biayanya! Biar Ajrng saja yang meneruskan cita-citanya, karena cita-citaku hanya ingin membuatnya bahagia.
“Mbak,”
“Apa?”
“Diko diterima kerja jadi tukang cuci piring di restoran padang lho,,,”
“Oh ya?? Wah, syukurlah kalo gitu!! Kapan mulai kerja??”
“Udah, ini hari pertama!”
Kamu tertawa senang. Tawamu adalah bagian terindah yang selalu ingin aku nikmati. Senyummu adalah mutiara yang menghiasi emas senyum Ajeng. Bagiku, memiliki kalian berdua di tengah hidup yang keras seperti saat itu adalah anugerah terindah yang pernah ada. Kalian adalah permataku, berlian, mutiara atau apapun itu, tak akan terganti!
Dari sebuah tas mungil kain perca, muncul tas-tas lain yang lebih lucu, buatanmu dan dibayar kontan para pemesan. Perlahan, kebiasaanmu mencari sesuap nasi dengan berjualan asongan berhenti. Kamu sibuk oleh berbagai pesanan dari jepit rambut hingga baju. Semua, buatan tangan penuh kasihmu. Akupun benar-benar meniggalkan acara menyemir sepatu dan mencoba konsisten mencuci piring di restoran padang itu yang mengajariku banyak ilmu tentang manajemen restoran.
Sementara Ajeng, ia tak perlu lagi mengamen. Dia mulai sibuk dengan prestasi dan organisasi, dan yang lebih membanggakan, Ajeng selalu mendapat beasiswa untuk pendidikannya. Aku merasa telah hidup begitu sempurna...
Kadang masih terlintas saat kita dicaci maki, dicemooh atau diacuhkan sebagai anak jalanan yang tidak berpendidikan. Semua berlalu dan terasa begitu perih, namun kini menenteramkan. Seringkali kerinduan akan sosok bapak dan ibu membayang, namun hanya doa yang bisa dipanjatkan dan sehelai kabar bahwa putra-putri mereka baik-baik saja. Apapun, semua yang ada cukup untuk membuatku bahagia dan bersyukur.
Namun, bahagia itu sempat pergi darimu ketika seorang pria benar-benar menyakiti hatimu, hingga terasa begitu sulit bagimu untuk mencoba percaya dan menerima yang lain. Kamu menjadi sibuk dengan hidupmu tanpa ingin diganggu kedatangan pria yang mencoba menggapaimu. Kamu gelisah, namun selalu menikmati bagaimana irama kehidupan membelai hatimu. Hingga tahun-tahun berlalu, entah berapa banyak pria yang terpaku mengharapkanmu.
Dan saat makan malam tadi....
“Mbak nggak tahu dia itu sebenernya kayak gimana, Di! Bisa aja di depan Mbak sok alim, baik, yang pinter, yang kaya, yang perhatian... Ah, nggak tahu, rasanya nggak yakin aja... Mbak juga nggak kenal watak mereka,”
“Makanya, Mbak jangan tutup hati dong, coba dulu dekat dan kenali baik-baik, Mbak, jangan mikir negatif gitu,” celetuk Ajeng.
“Nggak tahu, Jeng... Kayaknya masih susah...”
‘’Mbak, Mbak sekarang udah 27 tahun, udah waktunya Mbak bahagia sama pasangan Mbak... Masak Mbak nggak pengin nikah? Itu, Mas Arif yang dikenalin sama Pak Haji tempo hari, kelihatannya cocok buat Mbak,” tambah Ajeng, aku masih diam.
“Hmm... Nggak tahu, Jeng. Nggak sreg aja... Ajeng suka sama Mas Arif itu ?” ledekmu.
“Ih, Mbak nih! Ajeng aja belum beres kuliah?!!” sangkal Ajeng.
“Hahaha, yaa,,, siapa tahu?!”
Entah dari mana dan kenapa, suatu pertanyaan tiba-tiba muncul dalam benakku.
“Mbak, emang pria idaman Mbak itu yang gimana sih? Dari dulu yang dateng kayaknya udah sip-sip, tapi tetep aja nggak sreg?!” pertanyaan itu meluncur dari mulutku.
Kamu diam, agak terkejut dengan pertanyaan itu. Sepersekian detik, aku merasa talah salah bertanya! Ajeng terkejut juga, tapi menanti jawaban. Lalu, kamu tersenyum.
“Mungkin Mbak terkesan pilih-pilih atau... Sok jual mahal lah, sok perfeksionis lah, atau apa. Tapi, ya, jujur saja, semua pria itu pada dasarnya telah lebih dari cukup untuk Mbak, Di... Tapi, Mbak sendiri nggak tahu kenapa, kayaknya nggak yakin aja. Mbak merasa sudah nyaman begini, sama kamu, Ajeng, adik-adik persinggahan, ngurus usaha kita, liat Ajeng berprestasi, dan liat Diko sukses berbisnis... Mbak merasa ini semua udah cukup,” jawabmu dengan terus tersenyum manis.
Aku lihat mata Ajeng berkaca-kaca menahan haru. Aku pun merasakan keharuan yang sama, namun ada sebuah kesedihan yang menyelinap ke hati entah dari mana.
“Sekarang, giliran Mbak tanya. Kalian sendiri juga udah kena virus cinta kan?!! Ayo, cerita!!! Oke, Ajeng dulu!!!” ledekmu.
“Ah, Mbak, apaan si?!”
Aku menatap Ajeng serius, menunggu pengakuan Ajeng dan agar aku tahu lelaki macam apa yang mencuri hati adik tecintaku.
“Ayo, cerita!! Mas juga mau tahu!” tantangku dengan mata meledek.
Ilham, pemuda remaja masjid yang dekat denganku! Kamu juga mengenalnya. Dialah orang itu, yang berhasil meraih hati Ajeng. Aku senang, karena Ilham memang salah satu kandidatku untuk Ajeng kelak! Bagus lah!
Aku memang sempat memperhatikan beberapa pemuda untuk Ajeng. Aku cukup khawatir juga kalau Ajeng dekat dengan lelaki yang tidak aku kenal dengan baik. Dari sekian lelaki yang aku perhatikan, aku bisa tahu mereka pantas atau tidak untuk Ajeng, sedangkan aku selalu ragu dengan pria yang sepertinya cocok untukmu. Rasanya sulit untuk menemukan pria yang benar-benar sesuai untukmu.
“Mas-mu malah melamun tuh, Jeng!!” celetukmu membuyarkan jalan nalarku.
 “Kamu sendiri, gimana, Di?” entah mengapa, aku tiba-tiba merasa tersudut oleh pertanyanmu. Karena terus didesak oleh dua makhluk manis seperti kalian, yaa, akhirnya aku mengalah untuk menjawab juga!
“Ada,”
“Wah, siapa?!”
“Siapa, Mas??! Mbak Nurul itu? Atau Dinda temen Ajeng? Atau Mbak Mitha? Siapa, Mas?!” Ajeng mengejar jawaban dariku.
“Hahaha,,, rahasia dong! Pokoknya, ada deh!”
“Ih... Kasih tahu dong, Mbak berhak tahu, lho Di!” paksamu sok ‘Kakak’, padahal penasaran ingin tahu cara meledek yang baru dengan nama gadis itu! Aku tahu trikmu! Hahaha!
“Ada lah, Mbak, tapi...”
“Tapi??”
Rasa itu muncul lagi, menyeruak dalam hati dan aku tak pernah bisa menemukan cara untuk mendefinisikannya, apalagi mencegahnya. Semua terasa mengalir begitu saja.
“Tapi... Aku nggak berani bilang ke dia, hehehe,” jawabku agak asal, namun memang begitulah sebenarnya.
“Aaaah, payah!!” serumu dan Ajeng bersamaan mengejekku.
“Kalian nggak tahu sih, ini tuh susah! Nggak segampang biasanya! Hmm... Sebenernya, aku sendiri nggak yakin bakal diterima...”
“Mas, ungkapin aja, kalo Mas Diko tulus, masalah diterima atau nggak, itu urusan belakang. Tergantung dianya dan takdir juga, yang penting kan niat Mas baik. Masalah pendidikan yang bikin Mas minder? ‘Kan Mas tahu, tanpa itu, banyak juga gadis yang mau sama Mas. Mas udah mapan, soleh, dan nggak jelek-jelek amat kok, hehehe,” kata Ajeng panjang lebar.
“Ajeng bener, Di. Emang siapa dia? Anaknya tokoh masyarakat sini? Apa perlu Mbak bantu??” tanyamu.
Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri. Sepertinya, ini mulai serius karena aku sadar benar tentang perasaan ini, perasaan yang selalu membuatku senang sekaligus sedih!
“Ng...Nggak tahu deh... Ntar kalo aku udah siap, aku kasih tahu...”
“Eh, nggak bisa gitu, Mas!” protes Ajeng.
“Udah, Jeng, jangan dipaksa, Mas-mu kan emang gitu orangnya, suka mikir sendiri, tahu-tahu ntar dapet aja hasilnya! Udah, ntar kita tagih aja kalo dia udah siap!” katamu, “Tapi janji ya, kasih tahu?!” Aku tersenyum kecut, belum yakin akan mengiyakan permintaanmu, tapi tak akan kuasa juga untuk menolaknya.
Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, apa aku pantas memiliki perasaan ini? Apa aku salah jika membiarkannya tetap bersemi di hati setelah berkali-kali aku coba untuk membuangnya jauh-jauh?
Malam terasa terlalu lambat berlalu. Aku masih saja tak bisa terpejam sedetikpun! Aku diliputi kebimbangan yang tak berujung pangkal. Antara sebuah kayakinan, namun dikepung seribu keraguan. Aku pertimbangkan kembali, lagi, lagi, dan lagi berkali-kali. Akan baikkah? Atau keburukan yang kemudian menjelma?
Hampir tiga jam aku bergulang-guling tak jelas di tempat tidur. Seperti inikah orang yang jatuh cinta berkali-kali dan selalu pada sosok gadis yang sama??? Badai galau melanda....
Pukul dua pagi....
Aku putuskan mengambil air wudlu untuk melakukan sholat, memohon ampun dan petunjuk tentang apa yang harus aku lakukan. Aku meminta padaNya agar diberi kekuatan untuk menjalani apapun yang nanti akan terjadi. Berlembar-lembar al-Quran kubaca dan mencoba menajamkan hafalan lagi. Selesai, hati yang tenang dan jiwa yang tenteram terasa begitu lihai mengajakku merebahkan diri. Tak perlu ke atas kasur, karena aku akhirnya terpejam di atas sajadah!
Kesadaran menyapaku sebelum bedug subuh bergema. Aku terkejut dan mencoba mereka ulang mimpi yang baru saja aku alami. Dalam mimpi yang terasa begitu singkat itu, aku melihat gadisku tersenyum begitu manis. Ya, memang aku beberapa kali memimpikannya, tapi tidak dengan gaun pengantin hijau seperti dalam mimpi tadi. Apakah harus aku katakan saja kejujuran ini???
Adzan subuh mengalun jernih dari menara masjid. Aku buru-buru bersiap. Begitu keluar dari kamar, Ajeng dan kamu telah menanti di ruang tamu. Aku tersenyum.
“Kayaknya lagi seneng banget, Di? Mimpi apa?” tanyamu heran dengan tatapan lurus mengarahku. Aku menoleh, menatap balik padamu dengan senyum kemenangan.
“Coba tebak?!” aku menggoda, dan lebih berani menatapmu dengan penuh percaya diri... Hehehe...
“Dasar! Udah ayo, ntar ketinggalan,” katamu mengalihkan pembicaraan.
“Aku mau kasih tahu siapa dia, gadis yang aku cintai selama ini, nggak ada yang lain, nggak pernah berganti,”
“Wah!!! Asyik!!!” seru Ajeng girang, kamu diam dan aku tahu, kamu sedang menerka-nerka.
“Nanti, abis subuhan, ok?! Kalo Mbak dan Ajeng setuju aku sama gadis itu, aku mau langsung lamar dia deh!”
“Wah, keren Mas!! Ok!! Sip! Sip!” jawab Ajeng bersemangat dengan acungan dua jempolnya.
Aku tersenyum lebar dengan bangga. Aku merasa lebih percaya diri. Lalu, aku meanatapmu dalam. Kamu masih diam. Apakah kamu takut aku akan pergi bersama gadisku dan Ajeng bersama Ilham sementara kamu masih sendiri? Itukah yang kamu risaukan? Atau kamu sedih karena begitu mudah cinta menghampiri aku dan Ajeng, sementara ia belum menyentuhmu?
Tenang saja, aku tak akan meninggalkanmu. Akan aku tegaskan bahwa pilihanmu untuk tetap bahagia bersamaku dan Ajeng adalah benar. Akan aku katakan siapa dia, gadis pujaanku, yaitu kamu. Dan akan aku tetapkan siapa dia, pria idamanmu, adalah aku. Aku akan buktikan bahwa kamu memang tak akan pernah sreg dengan pria manapun, kecuali aku. Akulah pria idaman yang tak kamu sadari telah, sedang dan akan selalu bersamamu. Karena kamulah gadisku, Indy.....


Sudut kamar, 21 Mei 2013
03.43

Filosofi Kaca (Baca: cermin)

"Ngaca dulu sebelum ngomong!!"
Kita sepertinya sudah tidak asing lagi dengan ungkapan semacam itu. Ungkapan yang artinya kurang lebih memperingatkan kita untuk terlebih dahulu melihat (menilai) diri sendiri sebelum melihat (menilai) orang lain.
Salah?
Tentu tidak.
Tapi tidak sepenuhnya benar!!!
Loh? Kok??
Kamu harus berkaca atau ngaca atau melihat cermin terlebih dahulu sebelum menilai apa yang ada pada orang lain (?)
Bagitukah kita setiap hari? Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, ke kampus, ke kantor?
"Aku niat berkaca karena agar bisa menilai orang lain nanti."
Rasanya... tidak. Diakui atau tidak, sebagian besar (mungkin malah semuanya) dari kita, berkaca adalah dengan maksud memastikan apakah baju yang kita kenakan cocok? Apakah celana yang dipakai pas? Apakah kerudung sudah rapi? Apakah rambut kita acak-acakan? Apakah bedak di wajah kita kurang tebal?? *halah
Kita berkaca untuk memastikan bahwa apapun yang melekat pada diri kita sudah baik. Baik menurut kita, memang, tapi berkaca akan memberi gambaran tentang kita dari sudut pandang lain, keseluruhan, hingga bagian yang tidak bisa kita lihat langsung.
Nah, bukankah kita memastikan apapun yang ada pada diri kita sebelum orang lain yang menemukannya?
Bayangkan jika suatu pagi kita tidak berkaca.
Seorang teman mungkin menertawakan rambut kita yang sisirannya tidak rapi. Kerudung kita yang miring tak sama panjang. Pakaian kita yang ternyata paduan warnanya seperti kena begal *dipaksa.
Atau bahkan sisa busa shampo yang tertinggal di belakang telinga.
Atau bahkan bekas iler d pipi.... *yuck!
Pasti kita bisa malu dan salah tingkah, bukan?
Iya kalau akibatnya hanya ke diri kita. Kalau orang lain ikut kena?
"Ya ampun, itu manajer perusahaan apa kok penampilannya lecek!"
"Ya Salam, gadis sholehah kampus mana itu yang kerudungnya timpang?"
Dan teman di sebelah kita...
"Gue nggak kenal lo!" -_-#@$!&*!!!
Ngaca alias berkaca itu bertujuan asli untuk memastikan apa-apa yang ada pada diri kita sudah baik. Perkara nanti ada yang protes dengan penampilan kita, itu akan jadi bahan pemikiran saat berkaca selanjutnya. Iya kan??
Jadi, ngaca bukan selalu tentang menilai diri sebelum MENILAI orang lain!!
Tetapi juga tentang menilai diri sebelum DINILAI orang lain.
Beda? Jelas.
Orang yang dikritik lalu berkoar: "nggak ngaca?? ngaca dulu dong sebelum ngomong",
Bisa jadi dia sendiri yang tidak ngaca hingga orang lain yang menemukan kejelekannya!! Dia yang salah, tapi justeru marah-marah pada orang yang menunjukkan kejelekan yang seharusnya diperbaikinya... -_-
Maka, tidak ada salahnya ngaca dan memperbaiki yang ada sebelum orang lain menilai kita. Ngaca, adalah sebentuk perenungan, saat kejelekan apapun yang dipantulkan kaca, tidak bisa kita salahkan dan marah pada si kaca...
Maka,
Marilah, mulai saat ini, saat berkaca, katakan pada diri kita...
"Hai, diri... apa lagi yang harus kuperbaiki??"
Dan itu semua tak cukup hanya dengan usaha ngaca setiap harinya. Tapi juga dengan doa memperbaiki diri saat berkaca...
"Ya Allaah, sebagaimana telah Engkau ciptakan aku dengan sebaik-baiknya, maka (bantulah aku) perbaiki juga akhlaq-ku,"








Jumat, 16 Oktober 2015

Puisi: Kembalilah

Andai aku bisa menyelami sinar matamu,
mengeja tiap luka yang mungkin membuatnya berair di malam sendu
atau jika aku mampu menyentuh deru napasmu,
merasakan tiap perih yang membuat hatimu ngilu

tapi rembulan dan mentari begitu cepat berganti, berlalu
hingga aku terlalu ribut memburu waktu
sedang engkau begitu sibuk dalam diam tak tentu
sendiri, mengunci senyum tiap kali bertemu

adakah yang salah dengan kamu, aku, atau kita?
apakah aku dekat tapi tak peka?
atau perhatianku membuatmu risih dan ingin sendiri saja?

Sejujurnya, aku rindu akan tawamu saat bercanda
mimik wajah seriusmu saat bercerita
dan senyum sapamu setiap kali jumpa

kini yang aku lihat, kamu begitu sibuk menyendiri
menjauhiku dan semua yang di sini...
sering kurasa sesak di hati,
karena aku rindu kamu yang dulu lagi...

kembalilah, Kawan...
kembalilah pada dirimu yang warna-warni...
apapun masalah dan rintangan
yang kamu hadapi,
ingatlah bahwa setelah mendung dan hujan
akan ada pelangi dan mentari...

kembalilah, Kawan...
kamu tidak sendiri, ada aku, kawanmu...
di sini...

Bogor, 26 Mei 2015

https://www.facebook.com/notes/binapri-vindy-turningtias/kembalilah/10152792753010863

Mungkin Begitulah Cinta (?)

Pagi ini saya bertemu dua pasang suami istri yang sudah tidak muda lagi. Kalau saya melihat romantisnya pasangan muda-mudi dimabuk cinta, foto romantis gaya segalanya, menulis status atau cerita seindahnya, itu biasa. Tapi pagi ini, saya melihat ke'romantis'an lain yang bisa terlihat biasa, tapi buat saya itu luar biasa.

Seorang bapak sakit, tapi (maaf) bawel, sombong, angkuh akan profesi dan kemampuan finansialnya, ngotot pula... Sedangkan istrinya sabar, si ibu tidak lantas menyetop kata-kata si suami. Mungkin beliau tahu, suaminya bisa emosi dan marah-marah. Apa yang dilakukan si ibu sebagai istri? Dia berusaha menyabarkan karyawan kesehatan yang tampak sekali tidak suka dengan kelakuan suaminya. Si ibu memberi kode dengan senyum dan bahasa mata pada si karyawan, seolah meminta maaf karena kata-kata si suami. Si karyawan melihat si ibu, dan mencoba sabar menghadapi si bapak. Lalu si ibu berusaha mengajak suaminya menyudahi ocehannya, dan mengajak duduk menunggu giliran antre dengan pelan-pelan dan sabar juga.
Mungkin begitulah cinta. Seperti apapun pasangan, mungkin orang lain bisa melihat jeleknya, tapi kita bisa melihat baiknya. Manusia tidak ada yang sempurna memang, pasangan kita juga manusia yang tidak sempurna. Tinggal bagaimana kita menerima dan menghadapinya. Salut pada si istri.

Kemudian satu pasang lagi, si istri yang sakit. Keduanya tampak baik-baik saja dan memang orang baik, ramah, sopan. Yang membuat salut adalah, dengan kondisi yang terhitung sudah kakek-nenek, tampak mereka berdua memakai jaket yang sama warnanya. Sepertinya jaket couple. Dan si kakek memegang kunci motor. Jadi, bisa disimpulkan mereka pergi berdua saja berboncengan (?) Terlepas dari pertanyaan tentang anak yang tidak mengantar, apakah pergi berdua dengan motor, atau apalah... Mereka tampak romantis saja berdua. Si nenek sempat bingung karena biaya pengobatan yang dirasa mahal, sementara si suami dengan tenang berkata: "nggak papa, nggak papa, yang penting sembuh,"
Mungkin begitulah cinta. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisi pasangan, kapanpun waktu berlalu, semua dihadapi bersama dengan kasih sayang. Salut pada si suami.

Mungkin... Begitulah cinta. Semoga aku, dan kita semua, memiliki pasangan yang penuh cinta, kasih sayang, dan keromantisan... Sampai umur tua, sampai ke surga.
Aamiin ^_^


Ciledug, 27 April 2015

Rindu yang Tidak Akan Pernah Terobati di Sini...

Ini tentang seorang pria yang begitu menyayangi saya. Saya tidak bermaksud pamer atau menyombongkan diri, bukan juga untuk hal-hal negatif yang mungkin menurut orang lain cerita ini tidak penting. Saya menulis ini, karena ingin menuliskan sebuah kenangan tentang orang tersebut. Memang, kenangan akan selalu tersimpan dalam hati dan ingatan. Tapi bagaimana pun, saya ingin menuliskannya. Saya ingin meluapkan perasaan saya, dan menulis cerita ini mungkin bisa sedikit membantu.

Beliau datang ketika masih berumur 21 tahun ke desa saya tinggal. Beliau mendapat tugas di kantor polisi kecamatan kami, sehingga beliau datang dari Surabaya dan tinggal sementara, ngekos di rumah uwa saya. Orangnya baik sekali! Beliau sering mengajak saya naik motor, kadang ke pasar membeli kue lopis, klepon atau cenil. Kalau pagi, beliau juga tahu saya suka gembus, maka beliau sudah membelikan saya kue gembus sebelum berangkat kerja. Sering juga beliau bercandaan dengan saya dan sepupu saya sambil memberi makan burung-burung dara peliharaan uwa. Setelah pulang dari kantor walau lelah, kadang beliau masih mau membawa saya berkeliling dengan motor. Kalau setelah gajian (mungkin), saya diberi uang. Beliau sangat menyayangi saya. Saya pun tidak segan untuk berada di dekatnya, bahkan saya sering minta duduk di pangkuan beliau. Saya tidak canggung merengek padanya meminta dibelikan cilok kalau ada tukang cilok lewat. hehehe. oh iya, sebelum lupa, waktu itu saya masih duduk di taman kanak-kanak.

Beliau pun sudah seperti adik bagi kedua orang tua saya, dan memang sudah menjadi saudara bagi keluarga kami, uwa-uwa saya semuanya. Saya dan semua sepupu saya memanggil beliau 'Om'. Suatu hari, saya pernah dimarahi mama karena tidak mau tidur siang. Saya kabur ke rumah Uwa dan ngumpet bersama sepupu saya. Ternyata mama juga tahu dan mau mengejar plus memarahi saya. Tapi beliau mencegah, lalu mengajak saya dan sepupu saya untuk tiduran di depan TV. Beliau bercerita... Saya dan sepupu saya mendengarkan dengan antusias. Lalu dengan bangga beliau mengambil pianika, meniupnya dan memainkan lagu. Saya masih ingat benar lagunya : Ibu Kita Kartini dan Nina Bobok. Entah sihir apa dan bagaimana, sepertinya saya dan sepupu saya tertidur pulas.

Kalau ada acara keluarga, beliau diajak ikut serta. Ketika sepupu yang lain ada bapaknya, sedangkan Bapak saya kerja di Jakarta, maka dengan sayangnya, beliau berdiri menggendong saya, dan jika duduk, saya dipangkunya. Jika saya makan dan belepotan sana-sini, tangannya tak pernah ragu mengelap mulut saya. Jika saya menangis, kata-katanya halus menenangkan saya, lengannya sigap membawa saya ke mana saja untuk menghibur saya. Saya berangkat sekolah, bahkan lomba-lomba juga jika beliau bisa, beliau mengantar saya. Sebagai anak kecil, saya merasa senang memiliki beliau sebagai Om, apalagi saat Bapak jauh.

Saat saya kelas 2 SD, beliau dipindahtugaskan lagi, kembali ke daerah asalnya : Surabaya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi bertemu beliau sampai saya kelas 5 SD. Saat itu beliau berkunjung sejenak, bahkan tidak menginap! Beliau juga main ke rumah saya, menemui kedua orang tua saya. Mereka seperti... tidak, mereka memang saudara yang sudah lama tidak bertemu. Saya masih ingat waktu saya menyalami beliau, beliau masih memandang saya dengan tatapan itu : sayang. Lalu saya diberi uang saku, dan beliau pulang.
Itu terakhir kali kami bertemu, dan katanya :

"Nduk, sekolah yang pinter ya! Mbesuk kalo kamu nikah, Om mau dateng dari Surabaya!"

Beliau mencubit pipi saya, dan saya tersenyum malu.

Waktu silih berganti, zaman terus berlari. Lama tidak bertemu, tapi saya dan keluarga masih menerima kabar tentang beliau, dari kabar beliau naik pangkat, kabar pernikahan beliau, kabar beliau punya anak pertama, kedua, sampai anak ketiga. Selalu ada sematan kerinduan dan kata-kata ini : 'kapan Om main ke sini lagi?' atau 'ayo, Nduk, kapan main ke Suroboyo?'

Dan siang ini, di siang yang panas ini, saya menerima kabar lagi tentang beliau. Laki-laki yang menyayang saya seperti anaknya sendiri. Laki-laki yang pernah menemani dan menghiasi masa kecil saya... sudah pergi untuk selamanya...
Saya masih tidak percaya. Bahkan saya seperti tidak ingin percaya! Sederhana sekali... Beliau sedang bertugas, lalu kecelakaan dan... Selesai...
Tapi toh mau bagaimana juga, saya akan tetap berdoa untuknya, walau mulai sekarang doanya akan berbeda...

"Ya Allah, terima semua amal, ibadah, bakti, pengabdian dan kebaikan Om Alfon. Tidurkan beliau dengan tenang, sampai hari kebangkitan nanti, bangkitkan beliau dalam barisan hamba-hambaMu yang soleh-solehah, menuju tempat terbaik yang abadi, yang penuh kasih sayangMu. Karena tidak ada lagi kesempatan bagiku bertemu dengan beliau di dunia ini, maka pertemukan kami kembali bersama keluarga kami, di surgaMu... Aamiin..."

*jujur, saya menangis sambil mengetik ini...
Pulo Gebang, 9 Juni 2014

Om Alfon, saya dan uwa.
Saya dipangku Om Alfon :') 
Om Alfon, saya dan uwa. Saya dipangku Om Alfon :')

https://www.facebook.com/notes/binapri-vindy-turningtias/rindu-yang-tidak-akan-pernah-terobati-di-sini/10152090171575863

Untukmu, Duhai Sang Perindu

ini perkara pertarungan hati yang nggak gampang memang.
makanya, hanya orang tertentu yang bisa menang... :)

berdebar. menggenggam ponsel. menatap layarnya, menanti pesan. tidak ada. maka berniat mengirim pesan. mengetik beberapa huruf. lalu menghapusnya. berpikir, mencoba mengetik kata-kata lain yang mungkin lebih baik. tidak juga. dihapus lagi. kemudian mengetik lagi. sekarang sudah ada beberapa kalimat. dibaca lagi, berulang kali. ah, tapi pada akhirnya dihapus semuanya. buka kontak, sekarang berniat menelepon. ingin bertanya sedang apa. atau minimal apa kabar. ah, jangan. miskol saja cukup, mungkin. tapi tidak juga. ponsel digenggam dengan kencang. meluapkan segala rasa dalam dada. beberapa menit, lalu diletakkan begitu saja. menutup wajah dengan dua telapak tangan. hendak menangis. tidak. tangisnya ditahan. menarik napas, lalu berbisik pelan agak dipaksakan....

"aku bisa. aku kuat. sabar. semua akan indah pada waktunya. sabar!!!"

bergerak, berusaha menghindari ponsel. bergerak, mengerjakan hal lain yang mungkin bisa mengurangi rasa bergemuruh. bergerak, mengerjakan yang lain yang memang harus disentuh. tidak bisa. terdiam. melirik ponsel. tapi bergerak lagi... bergerak, membasuh dengan percikan air. bergerak, meluruh dalam sujud. yang ditahan, akhirnya mengalir juga dalam alunan doa.... walau rasa hati tidak mereda juga, tapi tetap berusaha. berbisik lagi.... kali ini lebih yakin dan lebih lega.

"aku bisa. aku kuat. sabar. semua akan indah pada waktunya. sabar...." 

ingatlah, tidak ada yang sia-sia. semua akan dibalas. janji Tuhanmu, itu pasti.



Cc : yang tangguh dan tetap bergerak untuk sabar dalam keyakinan ;)
26 Agustus 2014 
https://www.facebook.com/notes/binapri-vindy-turningtias/sabar-semua-akan-indah-pada-waktunya-/10152248144785863

Huruf

saat satu dua huruf terjatuh menimpa rongga waktu
berderak lirih riak-riak anak mentari
mengusap jingkatan manis gerimis petang
ketika setetes huruf terbang mencapai lubang mimpi
mengalir hening desir-desir cahaya
berpeluk senyuman penuh arti sang laguna warna...


#Binaprivt (11:20 26 11 2013)

https://www.facebook.com/notes/binapri-vindy-turningtias/huruf/10151734866240863